Sunday, January 6, 2013

Disiplin Diri untuk Berubah


Disiplin Diri untuk Berubah
by @rezawismail

Motivasi yang awalnya memicu kita, kebiasaan yang membuat kita terus berjalan. -Jim Ryun

Perubahan adalah hal yang pasti dalam hidup ini. Banyak orang memilih untuk berubah untuk mengembangkan diri, menciptakan kemajuan, dan membuat keadaan menjadi lebih baik lagi.
Akan tetapi banyak orang juga mengalami kesulitan untuk berubah walau mereka tahu perubahan itu bagus. Survei membuktikan, hanya 9% dari pasien yang telah diperasi jantung mau mengubah gaya hidupnya agar lebih sehat.
Di dalam dunia bisnis, 70% perusahaan yang di survey gagal melaksanakan inisiatif perubahan bukan karena idenya tidak bagus, analisis yang kurang atau sistem yang lemah. Tapi karena keengganan dari sumber daya manusianya. Orang-orangnya yang sulit berubah.
Perubahan perilaku menjadi sulit karena otak manusia tanpa sadar menolak perubahan.
Lalu, bagaimana caranya agar berubah menjadi mudah?
Pertama-tama,
kita harus mengerti bahwa otak kita mengatur segala tindakan kita. Perubahan perilaku yang sukses membutuhkan pendayagunaan otak secara menyeluruh.
TIGA BAGIAN OTAK
Selama ini, bagian otak yang kita sadari adalah neokorteks, otak kiri dan otak kanan.Pre-frontal korteks sebelah kiri mengontrol sisi kanan tubuh dan bersifat rasional, verbal, dan sistematis. Pre-frontal korteks sebelah kanan mengendalikan seluruh badan di sisi yang kiri dan berpikir secara abstrak, spasial, serta berjiwa seni.
Hampir 75% dari berat otak secara keseluruhan terdiri dari neokorteks ini. Otak bagian depan ini berfungsi sebagai pemikir kreatif, pencetus inovasi, dan yang merencanakan perubahan.
Walaupun begitu, otak bagian depan ini sangat boros energi. Istilahnya, berpikir itu melelahkan. Makanya butuh istirahat dan tidur. Dan otak bagian depan ini bisa dibajak tiba-tiba oleh otak di bagian lainnya. Contohnya ketika seseorang bereaksi spontan tanpa berpikir atau bergerak dengan refleks.
Sehingga; banyak pemikiran, harapan, dan rencana perubahan gagal dieksekusi serta bertahan dalam jangka panjang karena kelemahan otak bagian depan tersebut. Bagian otak lainnya bisa lebih berkuasa, bahkan tetap aktif ketika kita sedang tidur. Secara tak sadar, kita menolak perubahan.
Bagian otak yang takut terhadap perubahan ada di bagian tengah, di dalam sistem limbik yang disebut amygdala. Bagian inilah yang ingin bertahan dalam zona nyaman. Sistem limbik yang mengatur respons emosional kita, bereaksi dengan menghindari derita dan mengejar sukacita. Sistem limbik ini penting untuk bertahan hidup dan berkembang biak.
Selanjutnya ada bagian otak kita yang terletak di bagian belakang, batang otak dancerebellum, yang berfungsi mengatur keseimbangan, fungsi-fungsi otot dan otomatisasi, seperti jantung agar terus berdetak serta bernafas secara konstan.
KUNCI PERUBAHAN SEJATI
Disinilah kunci perubahan yang sesungguhnya, dengan memahami cara otak kita bekerja dan memanfaatkan kekuatan otak yang tak disadari. Pakar neurologi PauL MacLeanmenjelaskan lebih rinci ketiga fungsi otak dengan teorinya yang terkenal sebagai: Triune Brain.
Ketika seseorang memutuskan untuk berubah, ide perubahan tersebut baru sebatas teori. Agar perubahan berhasil diimplementasikan dan tahan lama, kita perlu menciptakan memori prosedural supaya bisa bertindak tanpa perlu banyak berpikir. Misalnya seperti saat kita berkendara, menggosok gigi, atau berpakaian.
Kesemuanya biasa kita lakukan tanpa berpikir panjang. Contohnya, ketika memakai celana kita tidak merenungkan kaki yang mana yang duluan, kiri atau kanan? Perbuatan kita yang terus diulang-ulang menjadi kebiasaan. Kebiasaan adalah urutan tindakan yang dilakukan secara efektif tanpa menghabiskan banyak tenaga untuk berpikir. Kebiasaan bersifat teratur, seperti fungsi otak bagian dalam/belakang yang terus bekerja meski tanpa disadari.
Kebiasaan adalah kunci sejati untuk menciptakan perubahan yang tahan lama. Kebiasaan, ritual, dan perilaku rutin dibentuk di dalam basal ganglia, bagian otak dalam dengan cara menguatkan koneksi-koneksi saraf. Kebiasaan yang sudah tertanam kuat akan sulit diubah.
Maka dari itu, otak depan (kiri dan kanan) boleh saja mempunyai keinginan yang kuat untuk berubah, tapi untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan lama membutuhkan banyak energi. Mengubah kebiasaan terasa tidak nyaman dan menciptakan tekanan psikologis.
Upaya yang dilakukan untuk berubah akan terasa sangat berat dan membutuhkan fokus yang tinggi. Perubahan, kalaupun terjadi bisa hanya sementara dan begitu kita kehabisan energi serta kehilangan konsentrasi, kita akan kembali ke perilaku-perilaku di dalam kebiasaan lama.
Tapi kita harus berdisiplin, terus berusaha berubah dan membentuk perilaku sampai menjadi kebiasaan baru. Kebiasaan baru ini akan memastikan perubahan yang ingin kita buat berjalan dalam jangka panjang. Lalu, bagaimana caranya agar disiplin diri menjadi lebih mudah?
DUKUNGAN DISIPLIN DIRI
Tantangan dalam berdisiplin berasal dari kecenderungan otak untuk mendapatkan homeostatis. Pikiran kita secara alamiah membutuhkan kepastian, kestabilan, dan ingin selalu berada dalam zona nyaman.
Perubahan menakut-nakuti pikiran dengan mengaktifkan orbital korteks di dekatamygdala yang bertanggung jawab untuk rasa takut dan marah. Perasaan yang tegang dan cemas akan mengambil alih akal sehat kita untuk berpikir panjang. Keinginan untuk berubah terasa salah dan tidak enak. Perubahan terasa mengancam. Mengapa bisa begitu?
Pada umumnya, otak mempersepsikan sesuatu yang salah di lingkungan sebagai sesuatu yang berpotensi membahayakan jiwa. Semak-semak yang bergoyang aneh ketika kita di hutan mengaktifkan adrenalin kita untuk bersiap-siap lari tanpa pikir panjang. Kita ingin segera kembali ke lingkungan yang aman, nyaman, dan yang sudah familiar seperti rumah kita sendiri.
Proses berpikir seperti ini terjadi di sistem limbik yang mengatur motivasi kita untuk bertindak lewat emosi. Segala tindakan kita dimotivasi dengan emosi, memaksimalkan rasa senang dan meminimalisir rasa nestapa. Dengan mengerti prinsip motivasi di dalam sistem limbik ini, kita bisa merestrukturisasi motivasi secara internal lewat pengaturan emosi dan tension (tekanan mental).
Menata ulang perilaku membutuhkan insentif, yang positif seperti imbalan (materi atau non-materi) atau yang negatif seperti ancaman sanksi atau hukuman. Kita bisa mencoba men-setting lingkungan yang mendukung perubahan, menyiapkan sarana serta prasarana di sekitar kita yang memfasilitasi perubahan, peralatan, makanan, dan sebagainya yang mendorong pembentukan kebiasaan lewat disiplin diri ini.
Melaksanakan proses pendisplinan diri untuk berubah juga akan semakin mudah seiring waktu, karena repetisi atau tindakan yang diulang-ulang akan terangkai dalam suatu jalinan neural yang semakin kuat seiring waktu. Istilahnya, jadi jago.
Dan pelaksanaan proses berdisiplin ini akan lebih cepat serta efisien dengan bantuan orang lain; bisa dengan teman, rekan, atasan, dan siapapun yang bisa meningkatkan motivasi serta komitmen untuk berubah. Motivasi karena emosi (baik positif maupun yang negatif) bisa dipicu oleh interaksi sosial kita.
LANGKAH-LANGKAH PERUBAHAN
Intinya adalah; pertama-tama kita pikirkan dan rencanakan perubahan secara matang di otak bagian depan. Susun rencana dengan teratur dan terperinci agar nanti pada tahap pelaksanaan tidak perlu berpikir banyak lagi sehingga bisa menjadi suatu kebiasaan yang prosedural.
Selanjutnya, kebiasaan inilah yang akan mengantarkan perubahan menjadi suatu transformasi yang sukses. Berubah tidak hanya untuk sesaat atau sementara, melainkan dalam jangka panjang dan tahan lama.
Kebiasaan sebagai kunci utama perubahan yang langgeng, direalisasikan dengan berdisiplin. Disiplin diri ini dibangun dengan perilaku yang konsisten untuk menguatkan jalan saraf, minimal 28 hari agar menjadi suatu perilaku yang semi-otomatis (kebiasaan yang tertib).
Emosi dan tensi atau tekanan secara psikologis bisa digunakan sebagai pemicu motivasi awal untuk berdisiplin. Lalu, bantuan orang lain serta pengelolaan lingkungan bisa dimanfaatkan sebagai dukungan dalam menegakkan kedisiplinan.
Dan terakhir, kita tak perlu memforsir kekuatan kehendak. Secukupnya saja jangan sampai kehabisan lalu menjadi tidak mau berubah karena sudah tidak punya kehendak. Kita bisa mengaplikasikan filosofi kaizen untuk bisa berubah lewat disiplin.
Caranya dengan bertindak secara sederhana terlebih dahulu, lakukan hal yang termudah pada awalnya yang penting konsistensi, barulah ditingkatkan secara bertahap jika sudah konsisten. Sebagai contoh, coba lakukan selama 5 menit saja dahulu yang penting bisa rutin setiap hari. Setelah bisa rutin barulah ditingkatkan kedisiplinannya.
Perubahan kecil bisa menjadi besar dan berkelanjutan jika kita lakukan secara terus-menerus dan diperbaiki tanpa henti. Salam perubahan!

No comments:

Post a Comment